Seni Menerima Diri Apa Adanya
BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI
Langsung saja tanpa panjang dan lebar, this riview is presented to all of you,buku bergenre psikologi motivasi ini bisa jaadi jawaban sekaligus solusi atas perbandingan-perbandingan yang tak sengaja di bentuk oleh lingkungan sekitar terutama sosial media. Mengapa demikian? Well, di era milenial yang serba instan saat ini,kita diajarkan untuk lebih ekspresif membagi kehidupan pribadi juga responsive dalam menanggapi urusan orang lain. Melihat kehebatan,kecantikan,dan pencapaian-pencapian orang lain membuat kita gundah nan resah dan mau ngaak mau tapi ‘kudu’(harus) berdamai dengan diri sendiri agar lebih percaya diri.
Berdamai dengan diri sendiri
Mengapa diri sendiri?
Sebab dia adalah musuh terhebat manusia. Dia terbilang sulit untuk dikalahkan. Sesorang yang belum selesai berurusan dengan dirinya sendiri,pastinya sulit untuk bisa peduli dan memberi manfaat untuk orang lain.
Tidak percaya?
Banyak yang tidak menyadari bahwa konflok batin adalah permasalahan vital yang sering terabaikan. Sejauh maana diri kita bisa menerima diri sendiri,maka sejaauh itulah kita bisa berdamai dengan kenyataan. Orang-orang yang sudah berdaamai dengan diri sendirilah yang mampu menjalani kehidupan yang penuh tuntunan ini dengan lebih tenang.
Jalan perjuaangaan setiap orang untuk meraaih kebrhasilan sudaah di takdirkan berbeda. Kadar masalaah dan ujian yang dihaadapi pun sudaah disesuaikan Tuhan menurut kapasitas masing-masing manusia. Sehingga kita tidak bisa mengadaptasi tindakan atau keputusan orang lain dalam menyelesaikan masalah kita. Sebab mereka tidak mengalami apa yang kita alami,begitu pula sebaliknya. Kitaa mungkin bisa bertanyaa saran dari orang lain untuk menghadapi maasalah kita,taapi kita tidak bisa bergantung pada mereka saat kita harus menyelesaikan masalah yang kita hadapi.
Kita pun diizinkan untuk menelaadani beberapa hal yang merekaa lakukan untuk diadaptasi ke dalam kehidupaan kita namun, yang perlu kita garis bawahi adalah kitaa perlu mengolah dan menyesuaikan apa yang ingin kita telaadani untuk selanjutnya kita terapkaan dalam kehidupan kita. Kira-kira sesuai atau tidak,pantas atau tidak, cocock atau tidak. Segala pertimbangan hrus tetap dilakukan agar kita tidak menjadi manusia copy paste hanya karena ingin meniru keberhasilan orang lain. Bahkan murid yang meneladani gurunya saja bisa melakukan pembaharuan,masa iya kta yang mengaku kekinian hanya bisa menjaadi manusia tukang duplikat.
Langsung saja tanpa panjang dan lebar, this riview is presented to all of you,buku bergenre psikologi motivasi ini bisa jaadi jawaban sekaligus solusi atas perbandingan-perbandingan yang tak sengaja di bentuk oleh lingkungan sekitar terutama sosial media. Mengapa demikian? Well, di era milenial yang serba instan saat ini,kita diajarkan untuk lebih ekspresif membagi kehidupan pribadi juga responsive dalam menanggapi urusan orang lain. Melihat kehebatan,kecantikan,dan pencapaian-pencapian orang lain membuat kita gundah nan resah dan mau ngaak mau tapi ‘kudu’(harus) berdamai dengan diri sendiri agar lebih percaya diri.
Berdamai dengan diri sendiri
Mengapa diri sendiri?
Sebab dia adalah musuh terhebat manusia. Dia terbilang sulit untuk dikalahkan. Sesorang yang belum selesai berurusan dengan dirinya sendiri,pastinya sulit untuk bisa peduli dan memberi manfaat untuk orang lain.
Tidak percaya?
Banyak yang tidak menyadari bahwa konflok batin adalah permasalahan vital yang sering terabaikan. Sejauh maana diri kita bisa menerima diri sendiri,maka sejaauh itulah kita bisa berdamai dengan kenyataan. Orang-orang yang sudah berdaamai dengan diri sendirilah yang mampu menjalani kehidupan yang penuh tuntunan ini dengan lebih tenang.
Jalan perjuaangaan setiap orang untuk meraaih kebrhasilan sudaah di takdirkan berbeda. Kadar masalaah dan ujian yang dihaadapi pun sudaah disesuaikan Tuhan menurut kapasitas masing-masing manusia. Sehingga kita tidak bisa mengadaptasi tindakan atau keputusan orang lain dalam menyelesaikan masalah kita. Sebab mereka tidak mengalami apa yang kita alami,begitu pula sebaliknya. Kitaa mungkin bisa bertanyaa saran dari orang lain untuk menghadapi maasalah kita,taapi kita tidak bisa bergantung pada mereka saat kita harus menyelesaikan masalah yang kita hadapi.
Kita pun diizinkan untuk menelaadani beberapa hal yang merekaa lakukan untuk diadaptasi ke dalam kehidupaan kita namun, yang perlu kita garis bawahi adalah kitaa perlu mengolah dan menyesuaikan apa yang ingin kita telaadani untuk selanjutnya kita terapkaan dalam kehidupan kita. Kira-kira sesuai atau tidak,pantas atau tidak, cocock atau tidak. Segala pertimbangan hrus tetap dilakukan agar kita tidak menjadi manusia copy paste hanya karena ingin meniru keberhasilan orang lain. Bahkan murid yang meneladani gurunya saja bisa melakukan pembaharuan,masa iya kta yang mengaku kekinian hanya bisa menjaadi manusia tukang duplikat.


Komentar
Posting Komentar